Minggu, 6 Desember 2020 | 04:37 WIB

Pemkab Garut Gelar Upacara Hari Santri Nasional 2020

Jumat, 23 Oktober 2020 | 05:55 WIB - Deny Yanto

GARUT, - Pemerintah kabupaten Garut menggelar upacara dalam rangka memperingati Hari Santri Nasional dengan mengusung tema “Santri Sehat, Indonesia Kuat” di lapangan Setda Garut, Kamis (22/10/2020). Bertindak selaku inspektur Upacara Wakil Bupati Garut dr. Helmi Budiman.

Sementara itu dalam sambutanya Wakil Bupati Garut mengatakan, momen Hari Santri Nasional merupakan hari yang istimewa, karena pada hari ini seluruh jajarannya bisa menjalankan aktifitas dengan sesuatu yang istimewa yaitu berpakaian baju koko dan sarung.

"Namun demikian peringatan hari santri pada tahun ini dilaksanakan dengan sangat sederhana, jumlah peserta upacara yang terbatas, hanya perwakilan dari pondok pesantren (Ponpes)," ujar Wabup Helmi mengawali sambutannya.

Selanjutnya, Wakil Bupati Helmi Budiman membacakan sambutan Menteri Agama (Menag) RI Fachrul Razi. Mengawali pesannya, Menag mengatakan penetapan 22 Oktober sebagai Hari Santri merujuk tercetusnya “Resolusi Jihad” yang berisi fatwa kewajiban berjihad demi mempertahankan kemerdekaan Indonesia.

“Resolusi Jihad ini kemudian melahirkan peristiwa heroik tanggal 10 November 1945 yang kita diperingati sebagai Hari Pahlawan,” ucap Wabup Helmi membacakan sambutan Menag RI Fachrul Razi.

“Selain itu, santri dan pesantren juga telah memiliki Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2019 tentang Pesantren. Undang-undang ini memberikan afirmasi, rekognisi, dan fasilitasi terhadap pesantren dalam melaksanakan fungsi pendidikan, fungsi dakwah, dan fungsi pemberdayaan masyarakat,” tambahnya.

Agar undang-undang pesantren lebih implementatif, Kementerian Agama diberikan mandat untuk mempersiapkan regulasi turunannya berupa peraturan presiden tentang pendanaan penyelenggaraan pesantren serta beberapa peraturan menteri agama.

Terkait pandemi COVID-19, Menag menyatakan, pesantren merupakan entitas pendidikan yang juga rentan terhadap COVID-19 karena beberapa pesantren memiliki keseharian dan pola komunikasi para santri yang terbiasa tidak berjarak antara satu dengan lainnya sebagai model komunikasi yang Islami, unik dan khas, namun sekaligus juga rentan terhadap penularan virus.

Meski begitu, beberapa pesantren yang berhasil melakukan upaya pencegahan, pengendalian, dan penanganan dampak pandemi COVID-19 menjadi bukti nyata bahwa pesantren juga memiliki kemampuan di tengah berbagai keterbatasan fasilitas yang dimiliki.

“Modal utamanya adalah tradisi kedisiplinan yang selama ini diajarkan kepada para santri, keteladanan dan sikap kehati-hatian kiai dan pimpinan pesantren karena mereka tetap akan mengutamakan keselamatan santrinya dibanding lainnya,” ujar Wabup Helmi membacakan sambutan Menag.

“Kita semua berikhtiar agar pandemi segera berlalu. Keluarga besar pesantren, santri, masyarakat Indonesia, dan warga dunia bisa melewati pandemi ini dengan baik. Terimakasih kepada seluruh santri Indonesia atas peran dan kontribusinya kepada umat, bangsa, dan negara. Selamat Hari Santri,” katanya.

Wabup Helmi menambahkan, Ponpes di Garut ini sangat banyak, ada kurang lebih 1.200 unit yang resmi, dan yang belum melengkapi ijin juga sangat banyak termasuk jumlah para santrinya sehingga yang diundang hanya perwakilan dari pesantren yang ada di Kabupaten Garut.

“Saya berharap, untuk yang belum resmi, agar diproses juga kelengkapan perijinannya dan harus diupayakan mempunyai lembaga agar mudah melakukan pendataan dan bisa sinergi dalam membangun Kabupaten Garut,” harapnya.

Helmi juga menjelaskan, tema hari santri ini adalah “Santri Sehat, Indonesia Kuat”, tentunya sambung Helmi, harus diperhatikan kesehatan santrinya, terutama masa pandemi Covid-19. Wabup juga menyampaikan beberapa amanat termasuk salah satunya bagaimana meningkatkan kesehatan dengan mengikuti protokol kesehatan.

Hari santri ini, kata Helmi, dilatarbelakangi jihad untuk mempertahankan NKRI. Sekarangpun jihad ini untuk mempertahankan kesehatan bangsa, supaya Indonesia kuat dan bisa membangun dan produktif. Penegakan protokol kesehatan Covid-19 ini, merupakan gerakan jihad yang harus kita dukung bersama, agar para santri ini dalam melaksanakan jihadnya berjalan baik dan lancar serta harus didukung oleh lapisan masyarakat.

“Intinya, bagaimana mewujudkan Indonesia kuat dengan masyarakat yang sehat. Para santri juga harus menjadi garda terdepan dan bisa mengubah stigma serta membela, bahwa siapapun bisa terkena Covid-19, termasuk saya, rekan wartawan juga. Tapi jangan terstigma, kita ada petugas kesehatan, ada rumah sakit untuk menindaklanjutinya. Stigma negatif dimasyarakat terhadap pasien positif inilah yang harus berubah,” pungkasnya.

Komentar Anda

BACA JUGA
Pariwisata | Kamis, 3 Desember 2020 | 11:17 WIB
Nasional | Senin, 30 November 2020 | 13:41 WIB
Nasional | Rabu, 2 Desember 2020 | 15:50 WIB