Sabtu, 8 Agustus 2020 | 12:46 WIB

Indonesia Menjelang Masa Depan

Rabu, 1 Juli 2020 | 05:52 WIB - adm spn

Peta Indonesia. Foto: Dok.

Oleh: Dimas Madia, Pemimpin Redaksi sinarpaginews.com.

Buletin Redaksi, 10 Dzulqoidah 1441 Hijriyah

 

Kutipan:

INDONESIA MENJELANG MASA DEPAN

Terapung tak Hanyut, Terendam tak Basah, Berdiri tak Berakar, Bergantung tak Bertali.

 

“Tiada penyakit yang timbul, melainkan telah disediakan obat penyembuh baginya! Tiada bhakti suci, melainkan disertai dengan godaan anak-cucu Iblis la’natullah yang durjana! Orang tak tahu harganya sehat, sebelum ia sakit! Orang tak tahu harganya merdeka, sebelum ia menderita! Makin hebat perjuangan suci menggelora, makin besar tinggi nilai harga Kurnia Allah yang akan tiba”!

 

Kutipan diatas adalah suratan yang digambarkan oleh salah tokoh muda Revolusioner Indonesia sekaligus salahsatu Perumus yang menandatangi gerakan Sumpah Pemuda pada 27-28 Oktober 1928 yang setiap tahun kita peringati sebagai hari Sumpah Pemuda, tokoh itu ialah Sekarmadji Maridjan Kartosuwiryo, beliau juga adalah salah satu Revolusioner yang mempunyai Konsep Hijrah untuk kemerdekaan bangsa Indonesia sebagai pelanjut gurunya Haji Oemar Sa’id (HOS) Cokroaminoto.

 

Sahabat Redaksi, masih tidak jauh membahas tentang kehidupan dunia, namun tetap kita arahkan alam bawah sadar kita kepada mengenai adanya proses tunduk kepada sang pencipta dalam kehidupan ini. Kutipan diatas hanyalah pengingat agar kita bangkit dari segala macam ujian ummat dalam perjalanan membesarkan agama ini.

 

Pada pokok pembhasan ini, dalam sebuah hadits Nabi shollallahu ’alaih wa sallam mengabarkan bahwa kelak di masa yang akan datang ummat Islam akan berada dalam keadaan yang sedemikian buruknya sehingga diumpamakan sebagai laksana makanan yang diperebutkan oleh sekumpulan pemangsanya.

 

Lengkapnya hadits tersebut sebagai berikut:

 

Bersabda Rasulullah shollallahu ’alaih wa sallam “Hampir tiba masanya kalian diperebutkan seperti sekumpulan pemangsa yang memperebutkan makanannya.”

 

Maka seseorang bertanya: ”Apakah karena sedikitnya jumlah kita?” ”Bahkan kalian banyak, namun kalian seperti buih mengapung. Dan Allah telah mencabut rasa gentar dari dada musuh kalian terhadap kalian. Dan Allah telah menanamkan dalam hati kalian penyakit Al-Wahan.”

 

Seseorang bertanya: ”Ya Rasulullah, apakah Al-Wahan itu?” Nabi shollallahu ’alaih wa sallam bersabda: ”Cinta dunia dan takut akan kematian.” (HR Abu Dawud 3745)

  

Ada beberapa pelajaran penting yang dapat kita tarik dari hadits ini:

 

Pertama, Nabi shollallahu ’alaih wa sallam memprediksi bahwa akan tiba suatu masa dimana orang-orang beriman akan menjadi kumpulan manusia yang menjadi rebutan ummat lainnya. Mereka akan mengalami keadaan yang sedemikian memprihatinkan sehingga diumpamakan seperti suatu porsi makanan yang diperbutkan oleh sekumpulan pemangsa.

 

Artinya, pada masa itu kaum muslimin menjadi bulan-bulanan kaum lainnya. Hal ini terjadi karena mereka tidak memiliki kemuliaan sebagaimana di masa lalu. Mereka telah diliputi keinaan.

 

Kedua, pada masa itu muslimin tertipu dengan banyaknya jumlah mereka padahal tidak bermutu.

 

Sahabat menyangka bahwa keadaan hina yang mereka alami disebabkan jumlah mereka yang sedikit, lalu Nabi shollallahu ’alaih wa sallam menyangkal dengan mengatakan bahwa jumlah muslimin pada waktu itu banyak, namun berkualitas rendah.

 

Hal ini juga dapat berarti bahwa pada masa itu ummat Islam sedemikian peduli dengan kuantitas namun lalai memperhatikan aspek kualitas. Yang penting punya banyak pendukung  alias konstituen sambil kurang peduli apakah mereka berkualitas atau tidak.

 

Sehingga kaum muslimin menggunakan tolok ukur mirip kaum kuffar dimana yang banyak pasti mengalahkan yang sedikit. Mereka menjadi gemar menggunakan prinsip the majority rules (mayoritas-lah yang berkuasa) yakni prinsip yang menjiwai falsafah demokrasi modern.

 

Padahal Allah menegaskan di dalam Al-Qur’an bahwa pasukan berjumlah sedikit dapat mengalahkan pasukan musuh yang jumlahnya lebih besar dengan izin Allah.

 

كَمْ مِنْ فِئَةٍ قَلِيلَةٍ غَلَبَتْ فِئَةً كَثِيرَةً بِإِذْنِ اللَّهِ وَاللَّهُ مَعَ الصَّابِرِينَ

 

“Berapa banyak terjadi golongan yang sedikit dapat mengalahkan golongan yang banyak dengan izin Allah. Dan Allah beserta orang-orang yang sabar.” (QS Al-Baqarah ayat 249)

 

Pada masa dimana muslimin terhina, maka kuantitas mereka yang besar tidak dapat menutupi kelemahan kualitas. Sedemikian rupa sehingga Nabi shollallahu ’alaih wa sallam mengumpamakan mereka seperti buih mengapung. Coba perhatikan tabiat buih di tepi pantai.

 

Kita lihat bahwa buih merupakan sesuatu yang paling terlihat, paling indah dan berjumlah sangat banyak saat ombak sedang bergulung. Namun buih pulalah yang paling pertama menghilang saat angin berhembus lalu menghempaskannya ke udara.

 

Ketiga, Nabi shollallahu ’alaih wa sallam mengisyaratkan bahwa jika ummat Islam dalam keadaan terhina, maka salah satu indikator utamanya ialah rasa gentar menghilang di dalam dada musuh menghadapi ummat Islam. Artinya, sesungguhnya Nabi shollallahu ’alaih wa sallam lebih menyukai ummat Islam senantiasa berwibawa sehingga disegani dan ditakuti musuh.

 

Dewasa ini malah kita melihat bahwa para pemimpin berbagai negeri berpenduduk mayoritas muslim justru memiliki rasa segan dan rasa takut menghadapi para pemimpin kalangan kaum kuffar dunia barat. Alih-alih mengkritisi mereka, bersikap sama tinggi sama rendah saja sudah tidak sanggup. Sehingga yang kita lihat di panggung dunia para pemimpin negeri kaum muslimin menjadi –maaf- pelayan jika tidak bisa dikatakan anjing piaraan pemimpin kaum kuffar.

 

Mereka menjulurkan lidah dengan setia mengikuti kemauan sang majikan kemanapun mereka pergi. Padahal Allah menggambarkan kaum muslimin sebagai manusia yang paling tinggi derajatnya di tengah manusia lainnya jika mereka sungguh-sungguh beriman kepada Allah.

 

وَلَا تَهِنُوا وَلَا تَحَْنُوا وَأَنْتُمُ الْأَعْلَوْنَ إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ

 

“Janganlah kamu bersikap lemah, dan janganlah (pula) kamu bersedih hati, padahal kamulah orang-orang yang paling tinggi (derajatnya), jika kamu orang-orang yang beriman.” (QS Ali Imran ayat 139).

 

Komentar Anda

BACA JUGA
Ekonomi | Kamis, 6 Agustus 2020 | 11:28 WIB
Video | Jumat, 7 Agustus 2020 | 11:17 WIB
Nasional | Selasa, 4 Agustus 2020 | 17:05 WIB